Sumber: Budi Purwanto/TEMPO

Joko Prianto merupakan seorang petani di Rembang, Jawa Tengah. Saat ini di tengah kesebukannya menggarap lahan, dia diwajibkan untuk melapor ke kantor polisi di Semarang, Jawa Tengah tiap hari Selasa. Ia harus menempuh jarak 200 km lebih untuk mengurus kasus pemalsuan surat yang dilaporkan oleh pihak Pabrik Semen yang merasa dirugikan olehnya. Untuk mendatangi Polda Jawa Tengah, ia harus menanggung biaya perjalanan cukup besar, sejak dari tempat tinggal, menuju terminal bus Lasem, lalu perjalanan bus ke pusat kota Semarang serta melanjutkan perjalanan dengan jasa ojek ke Polda Jawa Tengah.

Joko Prianto bersama sekelompok petani di Pati dan Rembang menolak keberadaan pabrik semen di pegunungan Kendeng.Penolakan Joko Prianto dan petani lainnya didasarkan kerisauan rusaknya Cekungan Air Tawar Watu Putih karena penambangan bahan baku pabrik semen. Kerisauan itu berdasar pada alasan jika sumber mata air itu rusak maka sumber mata air yang menghidupi lahan pertanian di sana juga terganggu.

Dalam menjalankan protes mereka, para petani tersebut telah melakukan serangkaian aksi damai di iSemarang dan ibu kota Jakarta. Salah satu aksi yang paling fenomenal dilakukan dengan menyemen kedua kaki para petani di depan Istana Negara. Bahkan, dalam rangkaian protes tersebut seorang petani perempuan, Ibu Patmi meninggal pada malam hari 21 Maret 2017 di tempat penginapannya karena terkena serangan jantung. Keluarga ibu Patmi merelakan kepergiannya dan menganggap apa yang terjadi padanya merupakan bagian dari perjuangan. Sudah saatnya kasus Joko Prianto dan perjuangan petani Kendeng mendapat perhatian presiden untuk mendapat keadilan.

Minta Pemerintah Indonesia menghentikan kasus Joko Prianto dan memperhatikan tuntutan petani Kendeng.