Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah tegas untuk mengungkap penghindaran pajak oleh orang-orang kaya dan perusahaan, ujar Amnesty International setelah dokumen Panama Papers mengungkap perjanjian gelap dengan industri finansial di luar negeri.

“Saat orang-orang tidak membayar kewajiban pajaknya, warga miskin lah yang paling akan menderita. Saat pemerintah di seluruh dunia memotong anggaran kesehatan, pendidikan, perumahan, dan sokongan kesejahteraan mereka, sangatlah memalukan banyak individu kaya dan perusahaan-perusahaan dibolehkan mengungsikan milyaran dollar di surga bebas pajak,” kata Iain Byrne, Penasehat Hak Ekonomi, Sosial and Budaya Amnesty International.

“Pemerintah harus melakukan upaya lebih untuk menghentikan praktek surga bebas pajak -termasuk mengatur para akuntan, pengacara dan konsultan yang dari membantu penyelewengan pajak skala besar ini. Kita banyak mendengar janji kosong. Saatnya aksi nyata dilakukan.

Penhindaran dan penyelewengan pajak mengurangi sumber biaya pemerintah untuk menjamin hak-hak ekonomi dan sosial warga yang memang sudah jadi kewajiban negara. Hal ini termasuk hak untuk fasilitas dan pelayanan publik yang seharusnya dapat dinikmati banyak orang untuk kehidupan lebih baik, seperti tempat tinggal layak, jaminan kesehatan dan Pendidikan, serta berbagai jaminan sosial yang mencukupi.

“pengungkapan dalam dokumen ini dan berbagai tuntutan atasnya, seharusnya mendorong komunitas internasional segera mengambil solusi global untuk pengemplangan pajak, dan bagaimana meminta pertanggungjawaban mereka yang melakukannya,” ujar Iain Byrne.

“Kita berhutang pada kelompok yang paling rentan dan miskin untuk memastikan warga yang paling kaya dan perusahaan-perusahaan raksasa untuk membayar kewajiban mereka.”

Latar Belakang

Dokumen Paradise Papers memuat detail berbagai skandal keuangan ratusan politisi, selebritas, orang-orang kaya dan perusahaan multi nasional yang terdapat pada 13,4 juta buah dokumen yang dibocorkan.

Bocoran dokumen-dokumen tersebut pada awalnya didapatkan oleh koran asal Jerman, Süddeutsche Zeitung. Koran tersebut kemudian mengontak the International Consortium of Investigative Journalists untuk melakukan penelusuran yang melibatkan 96 partner media, termasuk TEMPO, BBC, the Guardian, dan New York Times. Berbagai detail lebih lanjut mengenai isi Paradise Papers akan diungkap lebih jauh dalam beberapa waktu ke depan.